Selasa, 26 Mei 2015

Tersangka SL Tantang Kejari Doloksanggul : " Segera Limpahkan Ke Pengadilan "


Humbahas,Mimbar
Masih seputar lamban nya penuntasan perkara tindak pidana korupsi di Dinas Pendidikan Kabupaten Humbahas pada kegiatan pengadaan TIK APBN TA- 2011 yang memakan waktu hampir satu periode. Publik yang terus memantau perkembangan penanganan kasus korupsi tersebut menanti komitmen pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Doloksangggul pada penyelesaian akhir perkara, yang hingga saat ini belum memiliki kepastian hukum yang jelas. 
Hebatnya lagi, tidak hanya Masyarakat bahkan salah seorang tersangka, SL (Mantan Kabid di Disdik Humbahas) malah mengharapkan sekali agar perkaranya secepatnya dilimpahkan ke Pengadilan untuk proses penuntutan. Sebab dirinya merasa sudah terlalu lama gelar TERSANGKA ini disandang nya. " saya sudah meminta kepada pihak Kejaksaan agar dipercepat proses penuntutannya. dan ini saya sampaikan secara lisan kepada mereka. Agar upaya praperadilan yang nantinya akan kita lakukan, bisa segera dilaksanakan. Kebenaran juga akan terlihat disana" pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Doloksanggul, Herus Batubara, melalui Humasnya Kasi Intel, Amardi Barus yang dikonfirmasi Media selasa,(26/5) mengatakan bahwa proses penanganan perkara dimaksud masih ditindak lanjuti. Pihaknya juga mengupayakan agar kasus tersebut bisa tuntas pertengahan tahun ini. Disinggung tentang keterlibatan WS selaku Penanggung jawab Dinas, Putra Tanah Karo ini enggan menjawab. " Kasus itu masih terus kita tindak lanjuti. Dan diusahakan selesai pertengahan tahun ini. Soal potensi keterlibatan WS selaku Kepala Dinas, sampai sekarang ini belum ada alat bukti yang mengarah kesitu" kilahnya.
tetapi, nanti secara teknis kita kordinasikan dulu sama Pak Kasipidsus. Mengenai permintaan SL terhadap percepatan penanganan perkaranya adalah hal yang positif. Karena yang bersangkutan butuh kepastian hukum"tambahnya. (Fir)  

Senin, 11 Mei 2015

Diduga Tahanan Koma Dianiaya, Keluaga Adukan Polres Humbahas ke Bidang Propam Polda


* Ketika Dikonfirmasi Kapolres Humbahas Tunjuk-tunjuk Muka Wartawan
    
Humbahas,Mimbar 
    Tidak dipungkiri bahwa perbuatan menghilangkan nyawa orang lain atau pembunuhan sangat-sangat bertentangan dengan nilai-nilai  prikemanusian. apalagi perbuatan ini didasari unsur kesengajaan. Namun bukan berarti, pelaku-pelaku tindakan tersebut layak diperlakukan dengan semena-mena. Sebab ada aturan dan sanksi hukum yang jelas untuk menindak para pelaku ini tanpa mengabaikan hak-hak asasi manusia yang diamanatkan dalam undang-undang dasar negara republik Indonesia sebagai negara hukum.
    Persolan ini dikeluhkan oleh keluarga salah seorang tahanan Polres Humbahas yang menjadi tersangka kasus pembunuhan siswi SMKN I Doloksanggul beberapa waktu lalu yakni Sarles Manulang(49). Seperti yang dilangsir Media, Minggu,(10/5) kemarin, Isteri tersangka  Sarles Manulang, Minar Br. Situmorang dan didampingi adik kandungnya Saut Manullang kepada Wartawan mengatakan bahwa pihaknya akan mengadukan Polres Humbahas ke bidang Propan Poldasu sekaitan dugaan tindak penganiayaan yang dilakukan oknum anggota Polres Humbahas selama di dalam ditahanan hingga menyebabkan abangnya itu mengalami kritis di rumah sakit. 
    " kita akan mengadukan Polres humbahas ke propam poldasu guna meminta keadilan. Sebab, kami sungguh tidak terima dengan kondisi abang saya yang saat ini koma di rumah sakit. Kami menduga bahwa selama didalam tahanan, abang saya mendapat perlakuan penganiayaan dari oknum polisi. Karena terdapat luka memar di dada, kemudian ada bekas salutan rokok dan bibir pecah serta gigi pada goyang "Ujar Saut adik kandung Sarles yang tidak menampik perbuatan keji abangnya tersebut. Memang abang saya sudah sangat bersalah, tapi jangan lah dianiaya sampai segitunya, kan ada proses hukum yang harus dijalaninya akibat tindakan tersebut " katanya.
    lebih lanjut dikemukakannya," hal ini kita lakukan agar tidak terjadi lagi kasus kepada Sarles - Sarles lain, yang mendapat penganiyaan dalam tahanan kepolisian. Untuk itu, kita berharap pihak Poldasu dapat segera mengusut kasus yang dialami abang saya ini tanpa mengesampingkan prinsip keadilan " tukasnya.
    Kapolres Humbahas, AKBP. Rustam mansyur ketika ditemui Wartawan Senin(11/5) di Mapolres Humbahas sekaitan pengaduan keluarga tahanan tersebut tarhadap lembaga yang dipimpinnya, mengaku siap menghadapi. Dengan nada tinggi dan sambil menunjuk-nunjuk muka wartawan dirinya mengatakan bahwa apa yang dialami tahanan tersebut belum seberapa dibanding perbuatannya. " harusnya dia (sarles-red) berterima kasih, karena itu belum seberapa buat Dia. Sebab Dia sudah mematikan anak orang. Gimana kalau kalian atau kamu itu, (sambil menunjuk muka wartawan) di posisi keluarga yang Ia bunuh (kel.Alm.Norita). Apa kamu terima " ujar Rustam yang merasa gerah dengan pertanyaan wartawan. 
    Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Irjend.Pol Eko Hadi Sutedjo,SH,Msi melalui Kasubbid Penmas Poldasu AKBP. MP. Nainggolan ketika dikonfirmasi Wartawan seputar pengaduan keluarga tahanan terhadap dugaan penganiayaan yang dilakukan bawahannya ke Propam poldasu, belum bisa memberikan keterangan. " coba nanti saya cek dulu " jawabnya singkat.(Fir)
      
    
    
   

Sabtu, 09 Mei 2015

Kejari Doloksanggul "Tak Punya Nyali" Tetapkan KaDisdik Humbahas Sebagai TSK


4 Tahun lamanya, Kasus Disdik Humbahas Tak Kunjung Tuntas
Humbahas,Mimbar
       Diakui bahwa penuntasan penanganan perkara tindak pidana khusus seperti korupsi membutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan  waktu yang lumayan lama dalam setiap proses penyelidikan untuk menghasilkan sebuah kepastian hukum yang real. Ke semua itu terangkum dalam Standart Operasioanal Prosedur (SOP) yang dimiliki masing-masing lembaga penegak hukum, dalam konteks ini pihak Kejaksaan. 
      Pada sebuah kesempatan Lembaga ini (Kejaksaan-red) melalui Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Doloksanggul,Kabupaten Humbahas, Herus Batubara,SH,MH beberapa waktu lalu kepada Media diruang kerjanya mengatakan, waktu yang ditetapkan untuk satu penanganan dugaan kasus tindak pidana korupsi ialah 9 (sembilan) bulan. Namun tak jarang media mendapati sebuah penanganan perkara korupsi yang tuntas ditangani oleh Lembaga Kejaksaan melebihi batas waktu yang ditentukan, bahkan memakan waktu bertahun-tahun. Sehingga dirasa perlu menelisik, apakah SOP penanganan perkara yang dimaksud sudah benar-benar dijalankan sesuai yang ditetapkan.
       Kejanggalan ini dihadapkan pada satu persoalan penanganan kasus tindak pidana korupsi dilingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Humbang Hasundutan pada pengadaan TIK dengan sumber dana APBN Kementerian TA - 2011 lalu. Dalam proses  pengembangan penangan kasus tersebut, Kejaksaan Negeri Doloksanggul berhasil menetapkan 2 (tersangka). Seorang merupakan Pejabat Dinas pendidikan, yang saat itu mengemban jabatan sebagai Kepala Bidang Pendidikan Dasar berinisial SL dan seorang lagi merupakan rekanan atau kontraktor berinisial BS. Dan penetapan kedua tersangka ini pun tidak berada diwaktu yang sama. Dari catatan media, SL ditetapkan pada tanggal 25/05/2012 lalu, selang setahun lamanya,tepatnya pertengahan tahun 2013 Kejaksaan Negeri Doloksanggul kemudian menetapkan tersangka kedua yakni rekanan,BS.
        Memasuki tahun 2014, terjadi peralihan jabatan di kubu Kejaksaan Negeri Doloksanggul, Mantan Kasi Pidsus Kejari Doloksanggul Benny Purba yang memulai penanganan penyidikan kasus tersebut mendapat kepercayaan mengemban tugas baru di wilayah hukum Kabupaten Sumbawa Barat provinsi NTB. Dengan sendirinya kewenangan penuntasan perkara korupsi pengadaan TIK beralih ke Kasi Pidsus Kejari Doloksanggul yang baru, yakni Rudi Panjaitan,SH pindahan dari Kejari Gunung tua. 
       Setelah sekian bulan bertugas, Rudi yang mengaku sebelumnya telah menganalisa kasus tersebut dan melanjutkan proses penanganan nya, kepada sejumlah awak media dalam kesempatan Pers Gatering yang digelar beberapa waktu lalu dengan optimis mengatakan bahwa penuntasan kasus korupsi pengadaan TIK di Disdik Humbahas akan selesai sebelum pertengahan tahun 2015. Akan tetapi,pernyataan yang dikemukakan mantan Kasi Pidum Kejari Gunung tua ini serasa isapan jempol belaka. Sebab, Kasi Pidsus Kejari Doloksanggul Rudi Panjaitan yang kemudian kembali dikonfirmasi Media baru-baru ini tentang komitment nya atas penyelesaian perkara dimaksud sepertinya ragu. Dengan alasan keterbatasan personil,kelancaran penyelesaian perkara korupsi pengadaan TIK tersebut belum bisa memberikan jaminan kapan kasus tersebut dapat dituntaskan. Padahal kasus tersebut tinggal menunggu hasil audit BPKP untuk masuk ke proses penuntutan.
       Anehnya, porsi seorang kepala dinas pendidikan selaku orang yang memiliki tanggung jawab penuh atas segala bentuk kebijakan yang diambil  pada pelaksanaan kegiatan di lingkungan Dinas pendidikan dengan sumber dana yang disediakan atau dipercayakan oleh pemerintah daerah  kabupaten, Provinsi hingga Pemerintah pusat  bak lempar batu sembunyi tangan. Pihak Kejaksaan yang kerap dikonfirmasi tentang potensi keterlibatan Kepala Dinas pendidikan terkait kasus korupsi pengadaan Tehnik Informatika Komputer (TIK) yang di alokasikan ke 28 sekolah, enggan memberikan keterangan yang logis kepada awak media. 
     Salah seorang pengamat, Drs.Erikson Simbolon kepada media mengatakan bahwa pihak Kejari Doloksanggul terkesan sengaja memperlama perkara tersebut agar " masuk angin" atau lenyap dari permukaan. atau barang kali Kejari Doloksanggul ini  TIDAK PUNYA NYALI atau kemampuan menetapkan oknum PNS berinisial WS selaku Kepala Dinas Pendidikan dan orang yang bertanggung jawab atas pengalokasi dana yang diterimanya dari pemerintah pusat. Sepatutnya penyidikan kasus tersebut dihentikan kalau memang tidak terbukti dari pada menyita perhatian publik tanpa kepastian hukum yang jelas. Atau jangan-jangan ada politik kambing hitam dalam penanganan kasus ini. Jika seperti itu, seyogiaya lembaga pengawasan sosial perlu melaporkan hal tersebut ke Jaksa pengawas Kejaksaan Agung di Jakarta agar menjadi pelajaran buat kedepannya " demikian digaskan mantan Anggota DPRD Taput itu. 
      Senada juga dikemukakan penggiat anti KKN Sekjend Sumut. Lembaga Pemantau Pengelolahan Keuangan Negara (P2KN) Saut Sagala,SE. Mantan Reporter TV One ini kepada Wartawan Sabtu,(9/5) saat dimintai tanggapannya mengatakan " menurut kacamata saya, aku menduga ada komunikasi politik antara pihak Kejari Doloksanggul dengan oknum-oknum yang terlibat di dalam pengalokasian dana yang disalurkan pemerintah pusat tadi. Bisa jadi sudah tercipta win-win solution untuk mengantisipasi kemungkinan yang terjadi. Sehingga pihak Kejari terkesan menggantung penyelesaian kasus korupsi tersebut. Sebab, penantian Kejaksaan Negeri Doloksanggul atas permohonan hasil audit BPKP sebagai tahap akhir penanganan kasus ini menuju tahap penuntutan tidak lah relevan. Karena, pada dasarnya hasil audit dimaksud semestinya telah keluar pasca Laporan Pertanggung Jawaban Keuangan (LPJK) ditetapkan. Jadi tidak ada alasan atau kendala pada penuntasan perkara tersebut. Yang jelas " lomo-lomo pandampol ma" (suka-suka tukang urut lah) " ujarnya cekikan.
   Terpisah, Ketua DPRD Humbahas Manaek Hutasoit,AMD belum lama ini diruang kerjanya mengaharapkan supremasi hukum benar-benar berjalan semestinya serta memiliki pertimbangan yang murni di kabupaten humbahas. " jangan ada sabotase pada penanganan perkara korupsi. Kita juga berharap, penegakan hukum bisa betul-betul transparan tanpa memilah-milah. Jangan ada pembekingan dalam supremasi hukum itu sendiri. Karena tidak ada satupun yang kebal dimata hukum. Katakan salah jika itu benar-benar salah" Ujar anggota Dewan dari Partai Golkar itu.
       Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Muhammad Yusni, melalui Kepala Seksi Penerangan Umum (Kasipengkum) Kejatisu Chandra Purnama,SH kepada Wartawan Sabtu (9/5) menjelaskan bahwa dalam menanganin sebuah kasus, penyidik tidak berbicara punya nyali atau tidak. Tapi penyidik diwajibkan untuk tidak keluar dari jalur penyidikan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Artinya kembali berbicara alat-alat bukti yang menjadi dasar ditetapkannya seseorang sebagai tersangka.   
      Kepala Kejaksaan Negeri Doloksanggul, Herus Batubara,SH,MH melalui juru bicaranya Kasi Intel Kejari Amardi Barus,SH saat dikonfirmasi wartawan secara tertulis via SMS selular Jumat,(8/5) kemarin, tentang apa yang menjadi tanggapan pihak kejaksaan Negeri Doloksanggul atas asumsi publik yang mengkritisi kinerja mereka, sekaitan realisasi penanganan perkara korupsi Disdik Humbahas pada pengadaan TIK yang merugikan keuangan negara sekitar 200 juta lebih itu, tidak bersedia memberikan klarifikasi. (Fir) 

Selasa, 28 April 2015

Kuat Dugaan, Motif Pembunuhan Sepasang Calon Pasutri Karena Sakit Hati

* Sebelum Gantung Diri,Ipar Korban (Ojak Purba) Sempat Minta Maaf Kepada seluruh Keluarga Via SMS

Doloksanggul, Mimbar
    Sepertinya peristiwa bunuh diri yang dilakukan Ipar Korban, (Ojak Purba-red) atas nama Aoran Manurung,(33) di Desa Pardomuan, Kecamatan Ajibata - Kabupten Tobasa beberapa waktu lalu,menjawab apa yang menjadi pertanyaan masyarakat tentang siapa pelaku dan apa motif pembunuhan tersebut. Penetapan AM sebagai tersangka pembunuhan diputuskan oleh hasil pengecekan sampel darah yang menempel di jaket milik AM. Selain sampel darah, handpone AM yang berisikan pesan terakhir AM kepada seluruh keluarga sebelum mengambil tindakan bunuh diri menjadi bukti tambahan yang menguatkan dugaan polisi, bahwa pelaku pembunuhan sadis tersebut adalah Lae (ipar) korba yaitu Aoran Manurung.
    Sebab, dalam handpone AM terdapat SMS yang berisikan permohonan maaf pelaku kepada seluruh keluarga atas kekhilafan dirinya. Salah satunya SMS pada Jumat,(24/4) lalu sekitar pukul 17:01 kepada Mertua nya yang bertuliskan "  Maaf on au Inong di Sasude pangalahon hu " (ma'afin aku ibu atas semua kesalahan ku) ". sedangkan kepada istri Ia (AM) berpesan " Mak ucok, perhatikan anak-anak ya ". 
    sekaitan apa yang menjadi motif pelaku, Kapolres Humbahas, melalui Kasat reskrim AKP. Hendro Sutarno di dampingi KBO. Aiptu Hotman Sirait, Kanit 1  reskrim Polres Humbahas, Aiptu. Rocky Sianturi dan Aiptu. P. Tanjung kepada sejumlah awak media Selasa,(28/4) menyampaikan bahwa sesuai hasil keterangan 16 saksi-saksi, diperkirakan pelaku AM nekat melakukan hal tersebut karena dipengaruhi rasa sakit hati, mengingat keterangan sang Istri yang menyatakan bahwa suaminya itu orang yang termasuk sensitif dan gampang sekali tersinggung.
    " Margaul Sihite yang merupahkan tentangga korban kepada kita menceritakan bahwa suatu ketika sebelum melancarkan aksinya, AM berkeluh kesah kepada nya. AM mengutarakan bahwa dirinya diminta menyiapkan bahan keperluan hidangan pesta pernikahan Laenya serta baju pengantin. Ketika permintaan tersebut dipenuhi,keputusan rencana persiapan acara pesta tersebut berubah. Pihak keluarga memutuskan bahwa penyediaan bahan keperluan hidangan pesta di percayakan kepihak Catering makanan. mungkin karena dasar tersebut, timbul kekecewaan AM dan mengarah pada sakit hati " ujar Hotman Sirait yang saat itu mendapat kesempatan bercerita.
    Rasa sakit hati AM diprediksikan bertambah ketika sang istri Sahata Br. purba tidak mau memberikan sejumlah uang kepada AM. Karena uang yang dipegang sang istri hanya cukup menutupi kewajiban (adat) selaku adik perempuan untuk mengantisipasi biaya pesta pernikahan, sehinga memicu pertengkaran antara AM dan Istrinya. Setelah bertengkar, sekitar pukul 01.00 minggu dini hari AM keluar rumah dan membawa sesuatu yang diduga alat yang digunakan untuk menghabisi nyawa Ojak Purba dan calon istrinya Ospi br. Simbolon yang nota bene lae (ipar) kandungnya sendiri " ungkapnya.
    Kapolres Humbahas, AKBP. Rustam mansyur,SIK,SH yang sebelumnya dikonfirmasi diruanganya mengatakan tidak tertutup kemungkinan kasus tersebut dinyatakan SP3 atau selesai. Mengingat pelaku atau tersangka telah meninggal dunia"tandasnya. (Fir)
    

Minggu, 26 April 2015

*Aceh klaim Sebagian Danau Toba Miliknya


Komisi A DPRDSU Kunker ke Kabupaten Humbahas Bahas Tapal Batas 
*Aceh Mengklaim Sebagian Danau Toba Miliknya
Doloksanggul,Mimbar

Komisi A DPRDSU kunker (kunjungan kerja) ke Kabupaten Humbahas dalam rangka membahas tapal batas dengan kabupaten tetangga yang berhubungan langsung dengan wilayah Humbahas, Jumat (24/4) kemarin di Bukit Inspirasi Doloksanggul. Kabupaten Humbahas yang langsung berbatasan dengan 4 kabupaten yaitu Tapanuli Tengah, Pakpak Bharat, Tapanuli Utara dan Samosir.
Komisi A DPRDSU yang turut serta yakni, FL Fernando Simanjuntak SH selaku wakil ketua, Rony Reynaldo Situmorang, Yasyir Ridho Lubis, Putri Susi Melani Daulay SE, Sarma Hutajulu SH dan Sutrisno Pangaribuan ST. Kahadiran wakil rakyat itu disambut Wakil Bupati Humbahas Drs Marganti Manullang, Ketua DPRD Humbahas Manaek Hutasoit, Sekda Saul Situmorang SE MSi dan sejumlah pimpinan SKPD. 
Saul Situmorang dalam paparannya menjelaskan, Kabupaten Humbahas berbatasan dengan Tapanuli Tengah dengan panjang batas kedua kabupaten 75 km. Titik koordinat disepakati tim BPD (Batas Pertanahan Daerah) kedua kabupaten terdiri dari  27 titik. Dimana 11 titik koordinat telah dilacak di lapangan dan telah dipasang pilar batas. Penentuan 16 titik koordinat lagi dilakukan melalui metode kartometrik terhadap peta Rupa Bumi (RBI) yang dikeluarkan Bakorsurtanal. Peta sementara serta titik  koordinat trayek batas telah ditanda tangani tim BPD yang diketahui bupati kedua kabupaten yaitu 28 September 2012 di Pandan Tapanuli Tengah. 
Namun Permendagri tentang batas daerah Kabupaten Humbahas dengan Tapanuli Tengah belum terbit. Tapi telah disepakati titik koordinat pertigaan batas di bagian selatan yang melibatkan 3 kabupaten yaitu Humbahas, Tapteng dan Taput yang dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani tim penegasan batas ketiga kabupaten dan tim penegasan batas provinsi. Kesepakatan ini dilaksanakan pada rapat penegasan batas di Kantor Gubsu tanggal 21  April 2015. 
Mengenai tapal batas dengan Pakpak Bharat, panjang batas kedua kabupaten 45 km. Disepakati dan ditetapkan 19 titik koordinat dan 10 pilar batas. Trayek batas telah ditandatangani tim penegasan batas kedua kabupaten. Permasalahnnya, belum ada kesepakatan titik koordinat pertigaan di sebelah Utara antara Humbahas, Pakpak Bharat dan Samosir. Masih ada beberapa titik koordinat yang perlu disepakati melalui metode kartometrik terhadap peta RBI. 
Tapal batas Humbahas dan Taput sepanjang 65 km. Disepakati dan ditetapkan 25 titik koordinat  dan 14 pilar batas. Permasalahannnya, terdapat perbedaan pendapat diantara PBD kedua kabupaten. Kemudian belum ada kesepakatan titik koordinat pertigaan batas di Sebelah Utara antara Humbahas, Samosir dan Taput persis berada di Danau Toba. Dalam waktu dekat akan diadakan rapat pembahasan titik yang belum disepakati bersama tim penataan batas Humbahas dan Taput yang difasilitasi tim penataan batas Sumut.
Sekda Saul Situmorang juga menjelaskan batas dengan Kabupaten Samosir. Panjang batas kedua kabupaten disepakati 15 km namun direncanakan 65 km. Telah disepakati dan ditetapkan masih 8 titik koordinat, 8 patok batas sementara. Trayek batas yang telah disepakati sudah ditandatangani tim penegasan batas kedua kabupaten.  Permasalannya, belum ada kesepakatan titik koordinat di sepanjang 50 km disebabkan belum adanya kesepakatan batas khususnya di daerah perbatasan antara Kecamatan Pollung, Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbahas dengan Kecamatan Harian Kabupaten Samosir yang berada di kawasan Hutan Negara damn Areal Konsesi PT TPL. 
Solusi dalam menyelesaikan tapal batas ini, tim PBD Sumut sangat diharapkan agar dapat memfasilitasi penyelesaian penegasan batas daerah Kabupaten Humbahas dengan Pakpak Bharat, Taput dan Samosir. 
Menanggapi paparan itu, FL Fernando Simanjuntak mengatakan pembahasan tapal batas antara kabupaten sudah dilakukan namun masih tahap proses. Menyelesaikan ini perlu duduk bersama dengan kabupaten-kabupaten lain. “Sebenarnya ini tidak begitu sulit karena masih dalam satu Provinsi. Kami akan berusaha dan berupaya untuk memfasilitasi untuk mencapai kesimpulan dan rekomendasi dari Pemprovsu. Begitu juga Pemprovsu harus mengundang kabupaten untuk duduk bersama untuk mendapatkan kesepakatan. Kalau duduk bersama, saya yakin pasti bisa. Sebenarnya, kita sama kitanya. Tak ada orang lain disini. Karena kabupaten ini semua hasil pemekaran dari Tapanuli Utara”tegas Fernando.
Hal senada juga disampaikan Sarma Hutajulu SH, intinya dalam menyelesaikan ini harus duduk bersama. Khusus tapal batas dengan Samosir, ini dipersoalkan karena ada lokasi TPL, ada sumber daya alam disitu, sehingga lokasi saling berebut. Saling mengklaim itu milik masing-masing kabupaten. Menyelesaikan itu, Pemprovsu harus pro aktif. “Guburnur Sumut harus pro aktif disini. Jangan sempat wilayah kita ini diambil provinsi lain. Ada kabar, Aceh juga mengklaim sebagian Danau Toba miliknya. Karena tapal batas propinsi belum selesai. Jangan sempat terjadi Jalur Gaja di Humbang Hasundutan ini. Hal ini jangan sempat terjadi” ujar Alumi FH USU itu. (Firman)
foto : Sekdakab Humbahas, Saul Situmorang,SE,Msi saat memberikan paparan. Mimbar/Ist



Kuat Dugaan, Pelaku Pembunuhan Sepasang Calon Pengantin Keluarga Dekat


* Ipar Korban,AM (33) Mendadak Gantung diri dikampung Halaman
Doloksanggul,Mimbar
Sepekan lamanya, satuan Reskrim Polres Humbahas dibantu Tim Poldasu belum juga bisa memastikan pelaku dan motif pembunuhan sepasang calon pengantin (Ojak dan Ospi-red) yang belum lama ini terjadi di Doloksanggul Kab. Humbang Hasundutan. Peristiwa pembunuhan sadis dan menggemparkan tersebut seolah-olah mengundang rasa penasaran yang luar biasa terhadap Masyarakat luas. Tidak hanya masyarakat Humbahas, tetapi bahkan kepada masyarakat luar tentang siapa pelaku dan kronologis terjadinya perbuatan diluar akal sehat manusia itu.
Orang-orang yang berada disekitar rumah korban juga tidak pernah mengetahui adanya persoalan ataupun perdebatan sebelum peristiwa naas itu terjadi. Namun anehnya, Ipar korban yang merupahkan suami adik perempuan korban berinisial AM disebut-sebut mendadak menghilang saat kejadian, bahkan hingga kini.
Usut demi usut, diperoleh informasi yang menyebutkan Ipar (lae) korban, Ojak Purba ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon. Hasil penelusuran media,  Kapolres Tobasa melalui Kepala Bagian Operasi Polres Tobasa, Kompol. Edi B. Sinaga,SH yang dipercayakan sebagai humas ketika dikonfirmasi awak media,Minggu (26/4) mengakui adanya kejadian tersebut. Pihaknya juga menegaskan bahwa korban merupahkan warga Komplek SD Purba Manalu kecamatan Doloksanggul.
"benar, kita telah menemukan sesosok mayat berjenis kelamin laki-laki, diduga gantung diri di pohon yang berada dipinggiran tebing sungai Sisera-sera Sijambur, Desa Pardomuan, Kecamatan  Ajibata, Toba Samosir. Korban ditemukan pada pukul ,11:30 Wib, Sabtu siang,(25/4). Dari hasil identifikasi, korban bernama AORAN MANURUNG (33)kristen, warga kompleks SD Purba manalu Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang hasundutan. Jasad korban telah dibawa ke RSUD Porsea guna di Visum. Visum yang dilakukan sudah mendapat izin dari keluarga korban, sebab keluarga korban hadir pada saat itu."terangya.
usai dilakukan visum, korban selanjutnya dibawa kerumah duka, di Desa Motung Kecamatan Ajibata, Kab. Toba samosir yang nota bene kampung halaman korban" pungkasnya mengakhiri.
Kapolres Humbahas, AKBP. Rustam Mansyur,SIK melalui Kasat Reskrim nya, AKP. Hendro Sutarno,SH membenarkan bahwa korban gantung diri yang ditemukan di Desa Pardomuan, Kecamatan Ajibata adalah Warganya. pihaknya menegaskan bahwa korban tersebut tak lain ialah Ipar (lae) korban pembunuhan, yaitu Ojak Purba yang dikabarkan menghilang pasca kejadian. Namun polisi belum bisa memastikan apakah AM adalah pelakunya. Untuk memastikan itu, kepolisian akan mencek sampel darah yang menempel di jaket milik korban (AM) dengan sampel darah almarhum Ojak dan Ospi.  
Demi pengembangan informasi, wartawan yang langsung terjun ke lokasi gantung diri tersebut, ketika mencoba mewawancarai warga sekitar, sepertinya enggan memberikan keterangan terkait obrolan kecil yang mungkin sempat diutarakan Aoran Manurung ketika berada di Desa tersebut, sampai memutuskan mengahkhiri hidupnya. Salah seorang warga setempat kepada awak media mengatakan mereka tidak tahu sama sekali tentang peristiwa gantung diri tersebut. (Fir)
foto : AM (33) korban gantung diri. Mimbar/ist

Rabu, 22 April 2015

Polres Humbahas Masih Memburu Pelaku Pembunuh Pasangan Calon Pasutri



Polisi Periksa 10 Saksi
Doloksanggul,Mimbar
Misteri pembunuhan sadis calon Pasutri yang terjadi di Jalan SM Raja Kelurahaan Pasar Dolok Sanggul Kecamatan Dolok Sanggul, Minggu (19/4) lalu masih belum terungkap. Pasalnya, polisi hingga kini masih memburu pelaku pembunuhan, yang terjadi terhadap Ojak dan Ospi. ” Kita masih melakukan penyelidikan dengan mencari keterangan dari warga, dugaan sementara pelaku kemungkinan lebih dari satu orang”, ujar Kapolres Humbahas AKBP Rustam Mansur melalui Kasubbag Humas Aiptu H Melialal kepada Wartawan, Selasa (21/4) kemarin.
Kepolisian yang masih berupaya melakukan serangkaian penyelidikan untuk mengungkap kasus pembunuhan sadis tersebut, 10 orang sudah diperiksa.” Penyidik sudah melakukan pemeriksaan terhadap 10 orang saksi”, tambah Meliala. Kasubbag ini menjelaskan, 10 orang tersebut lima diantaranya pihak pengantin perempuan yakni 3 orang dari abangnya dan dua adiknya, Ospi, 1 orang bapaudanya (paman), mantan pacarnya inisial DL. Sedangkan dari pihak Ojak, lima orang diantaranya, tiga orang dari adiknya, dua anak kost.
            “ Pemeriksan terhadap saksi-saksi masih berlanjut. Dan terhadap barang bukti, hanya dua handphone yang disita di TKP. Kami berharap kasus ini bisa terungkap cepat,” jelasnya. Kedua pasangan ini yang tewas terbunuh dikamar mempelai pria, Minggu (19/4) kemarin yang ditemukan oleh, Marjuki Purba, adik kandung Ojak. Saat tewas, hanya ibu dari Ojak bersama dua anak kostnya berada dirumah tersebut. Sebaliknya, Marjuki berada diluar dan baru pulang sekira pukul 03.55 WIB.
            Sementara, jarak rumah korban dengan rumah warga lainnya berendengan. Dikabarkan, sejak mulai pukul 00.00 WIB hingga, Marjuki, adik kandung, Ojak sudah berada dirumah dan menemukan pertama kali kedua jenazah pasangan calon pengantin ini, tidak terdengar sama sekali suara keributan dari rumah korban.  Sekaitan tetangga itu, polisi rencananya akan meminta keterangan terhadap tetangganya.” Penambahaaan saksi kemungkinan ada, itu nanti dari tetangga korban. Soalnya, jarak rumah disitu pada rapat semua, jadi kita hanya meminta keterangan apa ada terdengar suara keributan ataupun lainnya”, ujanya. 
           Sedangkan kedua jasad korban telah dikebumikan pihak keluarga pada Senin,(20/4) kemarin secara bersamaan dalam satu liang kubur setelah melewati prosesi pemakaman "tambahnya. (Fir).